/ oiraM: All about Tennis
More
Showing posts with label All about Tennis. Show all posts
Showing posts with label All about Tennis. Show all posts

KARTU TANDA ANGGOTA (KTA) PELTI

Salam Olahraga,
Awal tahun 2008, Pengurus Pusat Pelti memperkenalkan :

KARTU TANDA ANGGOTA (KTA) PELTI

Persyaratan peserta TDP (Turnamen Diakui Pelti) adalah mempunyai KTA, sehingga tidak diperlukan lagi membawa AKTE KELAHIRAN.

Mulai 1 Januari 2009, seluruh TDP sudah harus melaksanakannya sehingga setiap peserta harus memiliki KTA baru diperkenankan mengikutinya.

Persyaratan mendapatkan KTA :
1. mengisi formulir pendaftaran KTA (bisa didapat di PP Pelti, Pengprov Pelti)
2. membawa 2 (dua) foto ukuran 2 x 3 cm

Pendaftaran tahun 2008 belum dikenakan beaya pendaftaran, tetapi mulai 2009 akan dikenakan beaya pendaftaran.

Sampai saat ini baru 500 petenis , pengurus Pelti yang sudah memilikinya, untuk itu dianjurkan sesegera mungkin mendaftarkan KTA tersebut.

Atas perhatian dan peran sertanya kami ucapkan terima kasih
Hormat kami,

PENGURUS PUSAT PELTI
August Ferry Raturandang
Tel 021 5710298
Fax 021 5700157
E-mail: info@pelti.or.id
Website:
www.pelti.or.id

ITF perkenalkan e-learning bagi petenis

International Tennis Federation (ITF) sejak February 2008 telah membuka e-learning yang dibuat untuk mendidik petenis junior disemua negera sebagai persiapan masa depannya untuk menjadi sebagai petenis profesional. Semua pembelajaran melalui internet bisa diakses melalui situs www.itfjuniortennisschool.com, yang tediri dari 17 e-learning modules yang mencakup topik seperti gizi dan training, dealing with the media, pencegahan cidera dan peranan orangtua dan pelatih. Setiap modules makan waktu 30 menit, dimana kemajuan siswa melalui pembelajaran secara manual sebelum melengkapi 20 multiple choice pertanyaan sebelum maju kemodul berikutnya.

Lebih dari 700 petenis,orangtua,pelatih dan officials dari 100 negara telah ikuti dibulan pertama yang mempunyai target mencapai 10.000 petenis yunior dari seluruh dunia. Sekolah ini menggunakan bahasa Inggris, Perancis, Spanyol dan direncanakan dalam waktu dekat bahasa China maupun Russia.
Inisiatip ini muncul sebagai bentuk pengembangan dari keberhasilan dari forum pendidikan dari ITF Tennis School yang diselenggarakan oleh ITF selama ITF Junior team championships, regional championships dan Junior Wimbledon. Dimana forum ini merupakan opsi yang populer, online function untuk mencakup ke seluruh dunia, dan juga menggunakan berbagai bahasa secara online memberi kesempatan petenis bisa bekerja sesuai dengan kecepatan dan waktu yang dimilikinya. Mereka mempunyai pilihan bagaimana cara belajar dengan download modules melalui iPod, diikuti dengan presentasi power point atau mencetak semua informasi .

Launching online school diikuti 2 tahun riset , konsultasi dengan feedback dari beberapa kontributor termasuk oleh Child Protection Sport Unit’s Director Steve Boocock yang berikan tuntunan pada modul Player Protection.Ini idea juga karena keberhasilan dari program online dari Tennis iCoach yang diperkenalkan oeh ITF Development pada bulan Juli 2007.
Sekolah ini akan menarik sponsor sponsor sehingga ITF bisa berikan hadiah kepada yang lulus dan dimasa depan modul ini mudah diadaptasi untuk petenis potensial.




Menjalani Profesi sebagai Pekerjaan

Dalam masyarakat sering didengar istilah PROFESI dan Pekerjaan. Namun jika melihat pengertiannya, kerap terjadi kesalah pahaman. Bahkan istilah profesi dan pekerjaan untuk sementara orang atau masyarakat dipahami memilii artinya atau punya pengertian yang sama. Kedua istilah tersebut mempunyai pengertian yang berbeda.Untuk mengentahui lebih jauh, marilah lihat dari sudut bahasa. Pekerjaaan (occupation)adalah setiap aktivitas kerja, baik yang menghasilkan imbalan ataupun yang bersifat sukarela(tanpa imbalan). Istiah profesi (profess)berarti pengakuan atau merupakan pekerjaan salam pengertian khusus dan memenuhi persyaratan tertentu.

Menurut Carrsander (1933) dalam kuliahnya di Oxford Universiy berpendapat bahwa cikal bakal perkembangan profesi atau keahlian, dimulai pada masa Revolusi industri, yang kemudian berkembang atau tercipta berbagai jenis pekerjaaan baru yang disebut sebagai profesi.

Sedangkan ilmuwan lainnya mengemukakan perbedaan antara pekerjaan dan profesi ialah Louis Dembitz Brandels, pakar hukum dari Amerika Serikat.

Louis D Brandels (1944), disebutkan bahwa profesi adalah pekerjaan yang memerlukan persyaratan khusus antara lain meliputi :
a. memiliki intelektual dalam ilmu pengetahuan atau sains serta mampu mengeuasai
keterampilan yang cukup.
b. Untuk melakukan kegiatan, profesi harus mengikuti pendidikan dalam bidang ilmu
tersebut.
c. Pekerjaan profesi ditujukan untuk memberikan pelayanan kepada orang lain atau
pemakai jasa.
d. Berhasilnya pekerjaan tersebut tidak diukur berdasarkan imblalan uang , tetapi
diukur berdasarkan sampai seberapa jauh para pemakai jasa profesi terpenuhi
kebutuhannya.

Menurut pendidik dari AS, Abraham Flexner (1886-1959), suatu profesi harus memenuhi
6 persyaratan, yaitu:
a. Profesi merupakan pekerjaan intelektual,maksudnya menggunakan intelegensia
yang bebas dan diterapkan atau dipraktikan pada persoalan/masalah dengan
tujuan untuk memahami dan menguasainya.
b. Profesi merupakan pekerjaan saintifik berdasarkan pengetahuan yang berasal
dari sains.
c. Profesi merupakan pekerjaan praktikal artinya bukan seluruh teori akademik,
tetapi dapat diterapkan/dipraktikan (uji coba).
d. Profesi terorganisr secara sistematis.
e. Memiliki standar cara melaksanakannya dan mempunyai tolak ukur hasilnya.
f. Altruisme yang brorientasi kepada masyarakat yang dilayaninya bukan kepada
diri profesional
Dengan demikian profesi merupakan jenis pekerjaan tetap dan penuh. Artinya profesi merupakan pekerjaan yang layanannya diperlukan oleh masyarakat untuk menyelesaikan masalah yang mereka hadapi atau memenuhi kebutuhan mereka secara terus menerus. Tanpa layanan tersebut anggota masyarakat akan terganggu kehidupannya. Misalnya, tanpa profesi kepolisian,jaksa dan hakim ketentraman dan keadilan kehidupan masyarakat akan terganggu. Atau tanpa profesi kedokteran dan paramedis anggota masyarakat akan terancam hidupnya.

Standar profesi
Orang yang melaksanakan profesinya dengan mengikut norma dan standar disebut sebagai profesional. istilah profesional dalam pengertia skill atau ketrampilam dan latihan khusus, bayaran atau gaji,pembentukan kelembagaan profesional, dan adanya kode etik yang mengatur praktik profesional. Oleh karena itu istilah profesional sehari hari sering digunakan sebagai kata keterangan. Misalnya berjiwa profesional dan perilaku profesional.
Perlu diingat bahwa istilan profesional disini berbeda dengan istilah profesional dalam bidang olahraga. Istilah profesional dalam bidang olahraga artinya bayaran. Olahragawan profesional adalah orang yang pekerjaaannya bermain olahraga. Bermain olahraga merupakan cara mencari nafkah hidup
Istilah profesional dalam olahraga merupakan lawan dari kata amatir yang berarti bukan bayaran. Olahragawan amatir adalah mereka yang melakukan olahraga sebagai hobi, tidak untuk mencari nafkah.
Dengan demikian,istilah profesionalisme menunjukan ide,aliran,isme yang bertujuan mengembangkan profesi,agar profesi dilaksanakan oleh profesional dengan mengacu kepada norma norma standar dan kode etik srta memberikan layanan terbaik kepada klien.

Flexner mengatakan tentang konsep profesionalism,ialah:
a. Orang yang berkerja dengan kemamouan intelek didasarkan pada suatu pengetahuan
yang dapat diturun temurunkan antar generasi.
b, Orang yang bisa menerapkan kemampuan intelek berdasarkan pengetahuan tersebut
didalam kehidupan masyarakat.
c. Orang yang memakai kemampuan pada butir (b) di ats untukdimanfaatkan orang lain
dan masyarakat.
d. Orang yang kemampuannya mengundang kemampuan teknik dan keterampilan untuk
menyelesaikan suatu masalah dalam lingkungan kerja.
e. Orang yang orientasinya meningkatkan kemampuan dan sumbangan kemampuan itu
kepada masyarakat bukan hanya meningkatkan keuntungan atau laba pribadi.

(Diambil dari Majalah PRO Buletin Olahraga No. 06/2008 ditulis Oleh Drs. Taufik Fauzi,Kepala Bid.Pembinaan Badan Perpustakaan Jatim)
taken from: Catatan Ringan Tenis Indonesia


Mengenal Sportivitas

Sudah saatnya sekarang sebagai pelaku pelaku olahraga khususnya tenis bisa membaca sekedar mengingatkan betapa pentingnya SPORTIVITAS didalam perputaran olahraga tenis. Apalagi saat ini kegiatan turnamen tenis sedang gencar gencarnya dijalankan oleh masyarakat tenis di Indonesia. Hari ini dapat berita dari Bandung ada protes dilakukan oleh Orangtua petenis yunior turnamen Oneject Indonesia yang mengancam mundur dari kelompok umur 12 tahun hanya karena kesalahan dilakukan oleh Referee. Marilah kita semua merenungkan apa yang terjadi selama ini didunia tenis khususnya, dengan tujuan untuk memajukan olahraga khususnya tenis.
"Lebih baik belajar dari satu orang yang telah menjalankan sportivitas daripada belajar ke seratus orang yang hanya bisa omong belaka."-- Knute Rockne, pelatih sepakbola Amerika

JANGAN salahkan sepak bola bila dalam bulan ini banyak karyawan yang datang ke kantor dengan mata sembap, kekurangan darah seperti vampir yang sedang diet. Sudah banyak yang paham, ini adalah buah dari turnamen sepak bola Piala Eropa yang tengah digelar di Austria dan Swiss hingga akhir bulan ini. Di sana para bintang dunia di
lapangan hijau tengah beraksi. Teramat sayang untuk dilewatkan.

Meski hasilnya banyak deadline yang ketabrak, termasuk message of monday yang sedang Anda baca ini. Beruntunglah publik penggila sepak bola di negeri ini. Semua tontonan gratis, kecuali tentu saja tagihan listrik yang harus dibayar. Tontonan gratis ini sungguh bernas. Penonton setia tidak hanya disuguhi permainan atraktif, pergerakan bola yang fantastis, tetapi juga ini yang penting, sikap teladan dari para aktor di lapangan. Semua tunduk pada aturan permainan. Ingat penyerang ganteng Italia, Luca
Toni, yang golnya dianulir wasit saat melawan Rumania? Dalam tayang ulang terlihat jelas bahwa Toni tidak berada dalam posisi off-side.
Artinya, gol itu sah. Coba andai saja Toni berlaku seperti konstituen yang kalah dalam Pilkada di berbagai daerah. Dapat diperkirakan, jidat sang wasit benjol kena kepruk. Namun nyatanya tidak, ia menghormati keputusan wasit meski dengan hati yang dongkol sebesar telor bebek. Nah, inilah nilai luhur dari olahraga. Setiap
atlet yang bertarung dengan sendirinya menyerap semangat ini. Mereka menerima kekalahan, juga menerima kemenangan. Semua sudah terwadahi dalam aturan permainan. Andai hal itu tak mereka punyai, sangat mungkin pertandingan sepak bola memakan waktu berjam-jam atau bahkan sehari penuh, karena tim yang satu tak mau menerima kekalahan. Sepak bola adalah salah satu warisan besar yang ditemukan manusia. Walau
keras, toh semangat sportivitas adalah segalanya.

Sportivitas pada mulanya memang lebih akrab untuk terminologi olah raga. Pada hakekatnya, sportif adalah suatu sifat kesatria, mau mengakui keunggulan pihak lain, menerima kegagalan dan kekalahan, memahami dan mengerti perbedaan yang muncul, serta menjunjung tinggi kejujuran dan keadilan. Namun kini, kata 'sportif' digunakan secara
umum, termasuk dalam dunia politik dan juga bisnis.

Tanggal 8 Juni 2008, Museum Gedung Nasional, Amerika, sebuah acara penting berlangsung. Hillary Clinton, calon presiden dari Partai Demokrat melakukan pidatonya yang bersejarah di hadapan dua ribu pendukungnya. Hari itu, untuk pertamakalinya, Hillary Clinton mengakui kekalahannya dari pesaing utamanya, Barack Obama sebagai nominee calon presiden Amerika dari Partai Demokrat. Dalam pidatonya, Hillary mengatakan, "Saya mendukung Obama dan memberikan dukungan penuh kepadanya. Hari ini, saya mengucapkan selamat kepadanya atas kemenangannya dan pertarungan luar biasa yang dijalaninya. " Senator Hillary tidak hanya mengakui kekalahannya,
tetapi juga mendukung penuh bagi kandidat presiden Amerika dari Partai Demokrat, Barack Obama. Hillary menyatakan akan habis-habisan melakukan apa pun agar Obama terpilih menjadi presiden. Sikap yang ditunjukkan Hillary patut diacungi jempol. Hillary bukan hanya bersikap sportif, dengan mengakui kekalahannya, tetapi juga berpikir ke depan untuk secara bersama-sama dengan Obama, memenangkan pemilu
dari partai yang sama.

Sikap yang ditunjukkan Hillary, tak beda jauh ketika Al Gore kalah dalam pemilihan presiden melawan penantangnya George W. Bush. Gore kalah bukan karena telah selesainya hasil perhitungan suara dilakukan. Mahkamah Agung Amerika akhirnya memutuskan sengketa perhitungan suara yang terjadi. Ketika tahu Gore akhirnya kalah
dalam pemilihan presiden, dalam pidatonya, Gore mengatakan bahwa ia baru saja menelepon George Bush untuk menyampaikan bahwa ia menerima kekalahannya dan mengucapkan selamat atas terpilihnya George W. Bush sebagai Presiden Amerika ke-43. Di bagian lain pidatonya yang cukup puitis, Gore menyatakan bahwa ia sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Mahkamah Agung sehari sebelumnya, yang memenangkan Bush
sebagai Presiden, namun dia sangat menghargai keputusan itu dan menerimanya. Bahkan Gore mengajak segenap warga Amerika agar bersatu dan bersama-sama berdiri di belakang presiden baru Amerika. Sungguh, suatu ajakan yang sangat simpatik melihat betapa kisruh dan tegangnya selama 36 hari terakhir dalam proses perhitungan suara
pemilihan presiden sebelumnya.

Sikap sportif tak hanya berlaku bagi mereka yang kalah dalam suatu pertarungan, tetapi juga sebaliknya. Anda masih ingat si leher besi Mike Tyson? Mike Tyson merupakan petinju legendaris di zamannya.
Kemenangan Tyson sebagian besar dilakukan dengan memukul KO lawannya sebelum pertandingan berakhir. Ketika Tyson menggulung lawan- lawannya, tak ada apresiasi kemenangan yang gegap gempita dari Tyson. Setelah meng-KO lawannya, Tyson cukup tenang, datar dan menghampiri lawannya serta memberikan pelukan persahabatan yang
hangat. Seolah Tyson hendak mengatakan, ini hanyalah sebuah permainan.

Sikap sportif inilah yang harus dikembangkan dalam kehidupan sehari- hari kita. Baik dalam lingkungan rumah, kantor, dunia bisnis ataupun dalam dunia politik. Dalam kehidupan sehari-hari, dapat kita tunjukkan dengan bersikap jujur dan terbuka terhadap pasangan dan anak. Mau menerima masukan, kritik, bahkan dari anak sekalipun.
Serta, ini juga yang penting, mau bertanggung jawab terhadap semua perbuatan yang dilakukannya. Dalam dunia bisnis misalnya, menerima kekalahan dalam proses tender. Atau mengakui keunggulan produk pesaing yang ternyata memang lebih baik dan berkualitas.

Bagaimana dalam dunia kerja? Selalu ada kompetisi dengan aturan main yang tak seragam di dunia kerja. Mulai dari cara yang paling halus, hingga yang paling kasar sekalipun. Tetapi tetap saja, dalam menghadapi kompetisi tersebut, Anda harus bersikap sportif. Sikap sportif dalam pekerjaan, dapat Anda tunjukkan dalam kerjasama dengan rekan kerja lainnya. Jangan pernah ragu untuk membantu rekan yang
sedang menghadapi kesulitan dalam menyelesaikan tugasnya. Di lingkungan kerja pun, Anda harus tetap saling menghormati atas setiap perbedaan yang muncul. Sikap toleransi terhadap sesama rekan kerja juga harus ditumbuhkan. Sikap ini merupakan bentuk penghargaan terhadap setiap perbedaan kekuatan dan kelemahan. Diharapkan, dengan sikap ini mampu menumbuhkan dan menggerakkan sikap sportif rekan
kerja lainnya.

Dengan mengembangkan nilai sportivitas bagi setiap individu, diharapkan yang muncul adalah pribadi-pribadi yang tangguh. Pribadi yang unggul dalam menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, keterbukaan dan kebersamaan dalam kehidupan. Masalah-masalah bangsa ini sesungguhnya dapat kita atasi secara maksimal dan optimal, bila
semua pihak mau bersikap sportif.

Alangkah indahnya bila persaingan Anda di kantor diakhiri dengan acara tukar-tukar kaus seperti di lapangan sepakbola, atau mendatangi lawan yang terkapar di ring setelah tersungkur knock out atau memberikan karangan bunga ucapan selamat atas kemenangan sang lawan dalam Pilkada. (160608)

Sumber:
- Catatan Ringan Tenis Indonesia
- Sportivitas oleh Sonny Wibisono

Sekilas Mengenal Peringkat Nasional Pelti (PNP)

Masalah PNP (Peringkat Nasional Pelti) sering jadi bahan komentar atau guncingan hangat bagi ketidak puasan masyarakat tenis di Indonesia. Kadang kadang sudah menjurus kearah negative. Memang harus diakui kekurang tahuan masyarakat terutama yang baru masuk ke pertenisan Indonesia membuat panasnya situasi. Bagi yang ahli computer sangat menggampangkan soal membuatnya, sedangkan lupa kalau sewaktu membuatnya PNP 1987 di Indonesia belum canggihnya dunia komputer. Kemudian diperkenalkan tahun 1988 sedangkan buku panduan dibuat tgl 10 Januari 1993 oleh dr.Nico A Lumenta. Muncul ketidak puasan sehingga timbul kesan induk organisasi Pelti menutup nutupi masalah PNP tersebut.
Photobucket

Peringkat diperlukan sejak mulai semaraknya turnamen turnamen tenis baik diluar negeri maupun dalam negeri. Perlu diketahui ATP-Tour sendiri mulai menetapkan tahun 1973

Tujuan dari PNP adalah system PNP akan menghasilkan secara berkala tingkatan petenis atas dasar prestasi petenis dalam berbagai pertandingan dan selajutnya digunakan untuk penentuan unggulan (seedig), dan system PNP bertujuan untuk meningkatkan semangat kompetitif yang merupakan kekuatan pokok bagi petenis untuk menjalani pembinaan mencapai prestasi yang lebih tinggi. Dengan system PNP petenis didorong untuk memanfaatkan arena TDP (Turnamen Diakui Pelti) untuk peningkatan peringkat dan prestasi, dan diharapkan meningkatkan kualitas dan kuantitas TDP.

Perlu diketahui bahan untuk PNP adalah Hasil Pertandingan yang sah masuk dalam proses perhitungan system PNP adalah TDP Peringkat. Jadi bukan semua turnamen tenis yang bisa diperhitungkan. Faktor yang juga penting adalah Kategori Turnamen. Jika turnamen kelompok umum maka patokan dipakai adalah jumlah prize money. Makin besar prize money makin besar pula kategorinya sehingga makin besar pula angka didapat. Selaku petenis harus diperhatikan adalah nama yang konsisten digunakan dalam setiap keikut sertaannya dalam TDP.

Jika dari hasil pertandingan yang dilihat dari draw keseluruhan, mulai main dari kualifikasi sampai babak utama dimulai dari ronde pertama sampai final. Angka akhir diambil adalah APR (Angka Peringkat Rata rata) yang merupakan hasil pembagian Angka Peringkat Total (APT) dibagi dengan Angka Pembagi (AP). Sedangkan APT adalah penjumlahan dari Angka Dasar (AD) dan Angka Bonus (AB). Kalau kalah disuatu babak pertandingan maka diberikan angka sebagai Angka Dasar (AD)
Yang dimaksud dengan Angka Pembagi (AP) adalah jumlah turnamen yang diikutinya.

Kedudukan peringkat seseorang diambil dari makin besarnya APR. Biasanya setiap PNP dikeluarkan sering terjadi perubahan angka didapat karena adanya penambahan angka angka baru dari pertandingan yang baru diikutinya dan juga dikuranginya angka lama ( usia 52 minggu) yang didapat setahun lalu. Disamping itu juga diperhatikan perubahan APR dari pesaingnya.

Angka Dasar (AD) didapat dari kekalahan disetiap pertandingan tetapi kalau kalah dibabak pertama maka AD = 1. Petenis yang mendapat “bye” atau menang WO kemudian dibabak berikutnya kalah maka dianggap baru sekali bertanding sehingga kekalahannya dianggap berada dibabak I . Tapi kalau sudah menang dibabak pertama kemudian menang WO dibabak kedua dan kalah dibabak ketiga maka dihitung angka dasar dibabak ketiga.
Angka Bonus, yaitu bentuk apresiasi atas upayanya. Dibagi atas AB Peringkat yaitu bila mengalahkan lawan yang mempunyai Peringkat (PNP atau Internasional) didalam babak utama. Besarnya AB ada tabelnya. AB Kualifikasi, didapat jika menang dibabak kualifikasi dan lolos kebabak utama. Besarnya AB adalah 50 % dari AD babak ke II.
AB Luar Negeri, didapat bila bertanding dalam TDP Internasional baik didalam negeri maupun diluar negeri . AB Luar Negeri ini didapat setiap babak, ada tabelnya. Tapi kalau kalah WO tidak mendapat AB pada babak tersebut.

Angka Peringkat Total (APT) adalah hasil penjumlahan AD dan AB. Angka Pembagi (AP) angak yang menunjukkan jumlah pertandingan yang diikuti petenis. Tetapi perlu diketahui untuk pertandingan yang pertama sampai ke 12 maka AP=12. Tetapi setelah pertandingan lebih dari 12 , besarnya AP dapat dilihat dari table AP. Tetapi bagi TDP Kelompok Yunior tidak ada AP



Bagaimana Mengatur Latihan yang Baik

Dari literature yang dikeluarkan oleh ITF seperti yang ditulis oleh Habtu Alfework diceritakan mengenai Training session plan, yang akan diungkapkan disini untuk diketahui.

Photobucket
Ini merupakan rencana kecil latihan untuk intermediate / advanced players dalam 2-3 jam
1. Perkenalan , selama 3-5 menit
Pelatih akan ceritakan tujuan latihan dan bagaimana latihannya yang disesuaikan dengan kebutuhan atlit

2. Pemanasan , 30 -45 menit
Bisa dibagi menjadi umum dan spesifik. Tujuannya adalah menyiapkan seluruh anggota tubuh, secara physiological dan psychological untuk beban yang tinggi sebagai bagian latihan utama dan mencegah cidera.

3. Latihan Utama
Disini bisa didapatkan satu atau dua bahkan tiga latihan utama tergantung dari keinginan pelatih untuk menjalankan seluruh latihan
Total waktu dibutuhan 60-120 menit. Secara umum, bagian ini merupakan latihan tehnik, taktik dan fitness (kebugaran) atau gabungan dari seluruh program latihan.

a. Latihan Tehnik : jika latihan tehnik merupakan sasarannya dari seluruh program latihan, maka latihan tehnik menjadi prioritas yang diletakkan dalam permulaan latihan utama. Seluruh tehnik yang baru dan koreksinya dapat ditunjukkan hanya dengan low medium intensity physical effort dan jika atlit tidak lelah.

b. Tehnik dan taktik. Bagian ini, yang ditekankan terutama adalah aspek taktik dalam latihan. Menurut level standar atlit, pelatih dapat mengatur dari dasar ke specific drills, point dengan perbedaan aturan, beda2 permainan dan match practice.

c. Physical fitness. Dibagian utama tujuannya memperbaiki secara umum atau specific level dari kondisi fisik dapat diatur oleh pelatih berdasarkan fase2 latihan didalam lapangan atau gym, fitness program dan dengan lain olahraga seperti main sepak bola, basket dll. Semua ini dilakukan dengan menarik bahkan dilakuan dengan menyenangkan.

4. Cool down, 5-10 menit
Diawali dengan perlahan dan jogging ringan diikuti stretching (peregangan) Bagian ini sangat penting dan akan membantu suhu tubuh secara perlahan kembali ke suhu normal.

5. Kesimpulan 3-5 menit
Bagian akhir dari latihan adalah mengevaluasi kerja yang telah dilakukan. Berikan penjelasan2 hasil evaluasi dan semuanya atlit harus ikut berinter aksi. Apakah problem dan keberhasilan maupun tingkat kesulitan dalam latihan dikemnukan bersama sama. Pelatih jangan sampai meninggalkan latihan dimana atlit dalam situasi kesal atau marah.


Sumber:
- Buku Panduan Level-1 Coaches Course
- Catatan Ringan Tannis Indonesia

Macam Macam Gaya Melatih

Sebagai pelatih juga harus mengenal masalah Gaya Melatih. Ada 3 gaya melatih yaitu gaya komando ( command style), gaya terserah ( submissive style), dan gaya kooperatif ( cooperative style ). Tetapi banyak pelatih yang memiliki kecendrungan untuk mengarah kepada salah satu dari ketiga gaya melatih tersebut.
Photobucket

Bagaimana Gaya Komando ( Command style) ?
Disini komunikasi antara pelatih dan atlet hanya satu arah. Gaya memerintah dimana pelatih sendiri yang membuat keputusan. Peran atlet hanya merespon perintah perintah pelatih. Asusmi dibalik peran ini adalah karena pelatih lebih tahu dan lebih berpengalaman sehingga peran pelatih adalah memerintah apa yang harus dilakukan atlet. Pemain disini berperan sebagai pendengar dan pengingat dan penurut.

Bagaimana dengan Gaya Terserah ( Submissive style) ?
Peran pelatih disini tidak banyak membuat keputusan atau sedikit mungkin. Mulai dari cara memberikan bola dan instruksi pelatih sangat sedikit, pengarahan sangat minim untuk beraktivitas da membatasi permasalahan hanya bilamana benar benar dibutuhkan. Ini bisa disebabkan pelatih dengan gaya ini kemungkinan kurang memiliki kemampuan untuk memberikan instruksi atau penjelasan dan pengarahan. Bisa juga karena malas untuk memenuhi tantangan dari tanggung jawabnya sebagai pelatih atau sangat tidak mengerti arti dari pelatih. Pelatih dengan gaya ini tidak lain hanya sekedar pengasuh dan biasanya bukan pengasuh yang baik.

Bagaimana dengan Gaya Kooperatip ?
Pelatih dengan gaya ini memberikan kesempatan kepada atlet untuk meberikan keputusan bersama. Komunikasi disini terjadi dua arah. Walaupun mengetahui tanggung jawabnya untuk memberikan pengarahan dan memimpin untuk mencapai tujuannya, pelatih dengan gaya ini mengerti bahwa atlet tidak akan menjadi dewasa yang bertanggung jawab tanpa belajar membuat keputusan.

Gaya mana yang paling baik ?
Nah tinggal pilih, gaya mana yang paling baik. Apakah gaya memerintah atau gaya terserah atau gaya kooperatip ? Sebaiknya tidak memilih gaya terserah. Sedangkan gaya memerintah sudah lama dikenal dan paling sering digunakan oleh pelatih professional. Banyak pelati pemula yang meniru gaya ini karena hanya melihat gaya pelatih professional yang menrapkanya. Atau juga sebagai mantan petenis melihat contoh gaya pelathnya dulu melatihnya. Tetapi sebagian pelatih mengadopsi gaya ini karena dapat menyembunyikan keraguan mereka terhadap kemampuan mereka sendiri. Bilaman atlet tidak diijinkan bertanya, bilamana mereka dapat menghindar dari harus menjelaskan mengapa mereka melatih dengan cara mereka sendiri, maka kelemahan mereka tidak akan terungkap atau itulan yang mereka kira !

Sepintas gaya komando terlihat efektif. Karena atlet harus terorganisasi. Tidak dapat diatur secara efektif sebagai peserta demokrasi. Gaya komando dapat menjadi efektif bilaana pelatih menjadikan kemenangan sebagai tujuan utama dan bilamana gaya otoriternya tidak mematahkan semangat/motivasi para atletnya. Atlet bermain bukan karena secara naluri termotivasi, tetapi atletbermain untuk pujian pelatihnya atau menghindar dari marahnya pelatih sehingga tidak kena hukuman. Gaya komando menghalangi atlet menikmati olahraganya sendiri. Sedangka Keberhasilan adalah milik Pelatih bukan milik Atlet.

Gaya komando tidak sejalan dengan tujuan atlet terlebih dahulu dan kemenangan tujuan kedua. Bila tujuannya untuk membantu pertumbuhan anak anak muda secara fisik, phisiologi dan social memalui olahraga, bilamana tujuannya adalah membantu anak anak muda menjadi mandiri maka gaya komando bukanlah gaya seharusnya digunakan

Kelebihan gaya kooperatif memberikan kesempatan atlet membuat keputusan bersama dan mendahulukan kepentingan atlet, dimana kemenangan sebagai tujuan kedua. Bukan berarti jika mengadospi gaya kooperatif akan meninggalkan tanggung jawab sebagai pelatih atau mengijinkan atlet melaklukan semaunya.

Harus disadari menjadi atlet yang baik bukan sekedar memiliki keahlian mempelajari gerakan/ketrampilan baru. Atlet harus dapat menghadapi tekana, bisa beradaptasi dengan perubahan situasi dan mengahadapi perbedaan pendapat secara rasional sesuai kondisi saat itu, disiplin dan menjaga konsentrasi agar dapat melakukan yang terbaik,
Perilaku ini harus dipelihara terus menerus melalui pelath gaya kooperatif. Pendekatan cara kooperatif dapat memberikan kepercayaan lebih kepada atlet.
Atlet termotivasi bukan karena takut ke pelatih tetapi atas kemauan untuk kepuasan diri. Oleh karena itu gaya kooperatif hampir selalu lebih menyenangkan atlet.
Gaya kooperatif ini harus ada konsukuensinya bagi pelatih. Harus memiliki keahlian lebih. Pelatih dengan gaya kooperatif lebih melatuih secara individu dari pada dengan gaya memerintah. Ada kemungkinan saat saat tertentu harus mengorbankan kemenangan demi kebaikan atlet.Makin banyak pengalaman pelatih pelatih, makin mudah membuat keputusan kapan harus menggunakan gaya melatih yang tepat.


Sumber:
- Buku Panduan Level-1 Coaches Course
- Catatan Ringan Tannis Indonesia

Peran Seorang Pelatih


Sangat dibutuhkan sekali mengetahui bagaimana peran seorang pelatih sebelum terjun menjadi pelatih tenis. Banyak petenis yang prestasinya sudah tidak bisa berkembang sebaiknya mulai memikirkan karir tenisnya menjadi pelatih atau wasit tenis yang juga suatu profesi yang mempunyai masa depan cerah.

Bagaimana Tanggung Jawab seorang Pelatih ?
Sebagai pelatih bisa memberikan lingkungan yang aman dan bisa mengajarkan ilmu bermain tenis kepada murid muridnya. Disamping itu pula harus dapat memberikan pengalaman yang menyenangkan kepada murid muridnya. Pelatih yang baik akan memberikan pejaran yang menarik dan mempunyai tujuan.

Apa yang membuat seorang Pelatih Teladan ?
Tentunya untuk mewujudkan ini pelatih harus bisa bermain dengan baik. Mempunyai kemampuan bermain dan memukul bola kepada murid muridnya. Ada kemampuan memperagakan dan menunjukkan cara memukul dengan ayunan yang benar. Ada kemampuan memberikan bola dengan benar sehingga muridnya bisa berlatih dengan baik. Sebagai pelatih harus memahami permainan tenis, mulai dari Rules of Tennis, ukuran lapangan dll. Bisa memahami tehnik tenis seperti cara memegang raket, pukulan dll dan juga harus tahu masalah sejarah tenis.

Tidak kalah penting pelatih harus memahami metode dasar melatih, memiliki reputasi atau penampilan yang baik. Misalnya datang tepat waktu, penampilan baik, bisa dilihat dengan jelas dan mempunyau ekpresei wajah dan bahasa tubuh yang positip.
Pengetahuan dasar mengenai olahraga seperti physiology, biomecahniss, psychology, motor learning, sports medicine, diet, nutrition. Sebagai pelatih tentunya harus mempunyai suara yang baik, sehingga bisa berkomunikasi. Memiliki kemampuan berorganisasi dan menjaga kedisplinan, dan mempunyai empati terhadap murid muridnya Dan tidak kalah penting sorang pelatih harus memiliki filsafat yang mementingkan atlet terlebih dahulu daripada kemenangan , pembentukan jangka panjang lebih penting dari sukses untuk jangka pendek dan tidak berpikir kemenangan adalah segalanya, mengajarkan SPORTIVITAS.


Sumber:
- Buku Panduan Level-1 Coaches Course
- Catatan Ringan Tannis Indonesia

[Video] Tennis Lessons

Tennis Lessons - Bulding Points and Tactics 1-4

Tennis Lessons - Bulding Points and Tactics 2-4

Tennis Lessons - Bulding Points and Tactics 3-4

Tennis Lessons - Bulding Points and Tactics 4-4

[Video] Best Moments

The Best Moments


Top 10 Best of Roger Federer




Federer and Sharapova

 photo usps_logo_zps8af3cbdd.jpg